Dewi adalah sahabat saya, ia adalah seorang mahasiswi yang berotak
cemerlang dan memiliki idealisme yang tinggi. Sejak masuk kampus, sikap
dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik di bidang akademis
maupun profesi yang akan digelutinya. ''Why not to be the best?,''
begitu ucapan yang kerap kali terdengar dari mulutnya, mengutip ucapan
seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Kampus, mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht-Belanda, Dewi termasuk salah satunya.
Setelah menyelesaikan kuliahnya, Dewi mendapat pendamping hidup yang
''selevel''; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi. tak lama
berselang lahirlah Bayu, buah cinta mereka, anak pertamanya tersebut
lahir ketika Dewi diangkat manjadi staf diplomat, bertepatan dengan
suaminya meraih PhD. Maka lengkaplah sudah kebahagiaan mereka.
Ketika Bayu, berusia 6 bulan, kesibukan Dewi semakin menggila. Bak
seekor burung garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota
lain, dan dari satu negara ke negara lain. Sebagai seorang sahabat
setulusnya saya pernah bertanya padanya, "Tidakkah si Bayu masih terlalu
kecil untuk ditinggal-tinggal oleh ibundanya ?" Dengan sigap Dewi
menjawab, "Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya dengan
sempurna". "Everything is OK !, Don’t worry Everything is under control
kok !" begitulah selalu ucapannya, penuh percaya diri.
Ucapannya itu memang betul-betul ia buktikan. Perawatan anaknya,
ditangani secara profesional oleh baby sitter termahal. Dewi tinggal
mengontrol jadwal Bayu lewat telepon. Pada akhirnya Bayu tumbuh menjadi
anak yang tampak lincah, cerdas mandiri dan mudah mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang
itu, tentang betapa hebatnya ibu-bapaknya. Tentang gelar Phd. dan nama
besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang berlimpah. "Contohlah
ayah-bundamu Bayu, kalau Bayu besar nanti jadilah seperti Bunda".
Begitu selalu nenek Bayu, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Bayu berusia 5 tahun, neneknya menyampaikan kepada Dewi kalau
Bayu minta seorang adik untuk bisa menjadi teman bermainnya dirumah apa
bila ia merasa kesepian.
Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Dewi dan suaminya kembali
meminta pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk
menghadirkan seorang adik buat Bayu. Lagi-lagi bocah kecil inipun mau
''memahami'' orangtuanya.
Dengan Bangga Dewi mengatakan bahwa kamu memang anak hebat, buktinya,
kata Dewi, kamu tak lagi merengek minta adik. Bayu, tampaknya mewarisi
karakter ibunya yang bukan perengek dan sangat mandiri. Meski kedua
orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek. Bahkan, tutur
Dewi pada saya , Bayu selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria.
Maka, Dewi sering memanggilnya malaikat kecilku. Sungguh keluarga yang
bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, namun Bayu
tetap tumbuh dengan penuh cinta dari orang tuanya. Diam-diam, saya jadi
sangat iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Dewi berangkat ke kantor, entah mengapa Bayu
menolak dimandikan oleh baby sitternya. Bayu ingin pagi ini dimandikan
oleh Bundanya," Bunda aku ingin mandi sama bunda...please...please
bunda", pinta Bayu dengan mengiba-iba penuh harap.
Karuan saja Dewi, yang detik demi detik waktunya sangat diperhitungkan
merasa gusar dengan permintaan anaknya. Ia dengan tegas menolak
permintaan Bayu, sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan
keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Bayu agar mau mandi
dengan baby sitternya. Lagi-lagi, Bayu dengan penuh pengertian mau
menurutinya, meski wajahnya cemberut.
#bersambung ....................
Minggu, 04 November 2012
CATATAN SUBUH #5 edisi 2
Sore itu setelah segalanya
telah berlalu, yang tersisa
hanya keheningan dan
kesunyian hati, canda dan
riang Jessica kecil tidak
akan terdengar lagi, Budi
mulai membuka buku
cerita peri imut yang
diambilnya perlahan dari
onggokan mainan Jessica
di pojok ruangan.
Bukunya sudah tidak baru
lagi, sampulnya sudah
usang dan koyak.
Beberapa coretan tak
berbentuk menghiasi
lembar-lembar
halamannya seperti
sebuah kenangan indah
dari Jessica kecil.
Budi menguatkan hati,
dengan mata yang
berkaca-kaca ia membuka
halaman pertama dan
membacanya dengan sura
keras, tampak sekali ia
berusaha membacanya
dengan keras, Ia terus
membacanya dengan
keras-keras halaman demi
halaman, dengan
berlinang air mata. "Jessi
dengar papa baca ya"
selang beberapa kata,..
hatinya memohon lagi
"Jessi papa minta maaf
nak" "papa sayang Jessi"
Seakan setiap kata dalam
bacaan itu begitu
menggores lubuk hatinya,
tak kuasa menahan itu
Budi bersujut dan
menangis, memohon satu
kesempatan lagi untuk
mencintai.
__________________________________________
Seseorang yang mengasihi
selalu mengalikan
kesenangan dan membagi
kesedihan kita, Ia selalu
memberi PERHATIAN
kepada kita karena ia
peduli kepada kita.
ADAKAH "PERHATIAN
TERBAIK" ITU BEGITU
MAHAL BAGI MEREKA ?
BERILAH "PERHATIAN
TERBAIK" WALAUPUN ITU
HANYA SEKALI
Bukankah Kesempatan
untuk memberi perhatian
kepada orang-orang yang
kita cintai itu sangat
berharga ?
DO IT NOW
Berilah "PERHATIAN
TERBAIK" bagi mereka
yang kita cintai.
LAKUKAN SEKARANG !!
KARENA HANYA ADA
SATU KESEMPATAN
UNTUK MEMPERHATIKAN
DENGAN HATI KITA
telah berlalu, yang tersisa
hanya keheningan dan
kesunyian hati, canda dan
riang Jessica kecil tidak
akan terdengar lagi, Budi
mulai membuka buku
cerita peri imut yang
diambilnya perlahan dari
onggokan mainan Jessica
di pojok ruangan.
Bukunya sudah tidak baru
lagi, sampulnya sudah
usang dan koyak.
Beberapa coretan tak
berbentuk menghiasi
lembar-lembar
halamannya seperti
sebuah kenangan indah
dari Jessica kecil.
Budi menguatkan hati,
dengan mata yang
berkaca-kaca ia membuka
halaman pertama dan
membacanya dengan sura
keras, tampak sekali ia
berusaha membacanya
dengan keras, Ia terus
membacanya dengan
keras-keras halaman demi
halaman, dengan
berlinang air mata. "Jessi
dengar papa baca ya"
selang beberapa kata,..
hatinya memohon lagi
"Jessi papa minta maaf
nak" "papa sayang Jessi"
Seakan setiap kata dalam
bacaan itu begitu
menggores lubuk hatinya,
tak kuasa menahan itu
Budi bersujut dan
menangis, memohon satu
kesempatan lagi untuk
mencintai.
__________________________________________
Seseorang yang mengasihi
selalu mengalikan
kesenangan dan membagi
kesedihan kita, Ia selalu
memberi PERHATIAN
kepada kita karena ia
peduli kepada kita.
ADAKAH "PERHATIAN
TERBAIK" ITU BEGITU
MAHAL BAGI MEREKA ?
BERILAH "PERHATIAN
TERBAIK" WALAUPUN ITU
HANYA SEKALI
Bukankah Kesempatan
untuk memberi perhatian
kepada orang-orang yang
kita cintai itu sangat
berharga ?
DO IT NOW
Berilah "PERHATIAN
TERBAIK" bagi mereka
yang kita cintai.
LAKUKAN SEKARANG !!
KARENA HANYA ADA
SATU KESEMPATAN
UNTUK MEMPERHATIKAN
DENGAN HATI KITA
CATATAN SUBUH #5
-----baca nyantai aja memb....
Pada suatu malam Budi,
seorang eksekutif sukses,
seperti biasanya sibuk
memperhatikan berkas-
berkas pekerjaan kantor
yang dibawanya pulang ke
rumah, karena keesokan
harinya ada rapat umum
yang sangat penting
dengan para pemegang
saham. Ketika ia sedang
asyik menyeleksi dokumen
kantor tersebut, Putrinya
Jessica datang
mendekatinya, berdiri
tepat disampingnya,
sambil memegang buku
cerita baru.
Buku itu bergambar
seorang peri kecil yang
imut, sangat menarik
perhatian Jessica, "Pa
liat"! Jessica berusaha
menarik perhatian
ayahnya. Budi menengok
ke arahnya, sambil
menurunkan
kacamatanya, kalimat
yang keluar hanyalah
kalimat basa-basi "Wah,.
buku baru ya Jes?",
"Ya papa" Jessica berseri-
seri karena merasa ada
tanggapan dari ayahnya.
"Bacain Jessi dong Pa"
pinta Jessica lembut,
"Wah papa sedang sibuk
sekali, jangan sekarang
deh" sanggah Budi
dengan cepat. Lalu ia
segera mengalihkan
perhatiannya pada kertas-
kertas yang berserakkan
didepannya, dengan
serius.
Jessica bengong sejenak,
namun ia belum
menyerah. Dengan suara
lembut
dan sedikit manja ia
kembali merayu "pa,
mama bilang papa mau
baca untuk
Jessi" Budi mulai agak
kesal, "Jes papa sibuk,
sekarang Jessi suruh
mama baca ya" "Pa,
mama cibuk terus, papa
liat gambarnya lucu-lucu",
"Lain kali Jessica, sana!
papa lagi banyak kerjaan"
Budi berusaha
memusatkan perhatiannya
pada lembar-lembar
kertas tadi, menit demi
menit berlalu, Jessica
menarik nafas panjang
dan tetap disitu, berdiri
ditempatnya penuh harap,
dan tiba-tiba ia mulai lagi.
"Pa,.. gambarnya bagus,
papa pasti suka", "Jessica,
PAPA BILANG, LAIN KALI!!"
kata Budi membentaknya
dengan keras, Kali ini Budi
berhasil, semangat Jessica
kecil terkulai, hampir
menangis, matanya
berkaca-kaca dan ia
bergeser menjauhi
ayahnya
"Iya pa,. lain kali ya pa?"
Ia masih sempat
mendekati ayahnya dan
sambil menyentuh lembut
tangan ayahnya ia
menaruh buku cerita di
pangkuan sang Ayah. "Pa
kalau papa ada waktu,
papa baca keras-keras ya
pa, supaya Jessica bisa
denger".
Hari demi hari telah
berlalu, tanpa terasa dua
pekan telah berlalu
namun
permintaan Jessica kecil
tidak pernah terpenuhi,
buku cerita Peri Imut,
belum pernah dibacakan
bagi dirinya. Hingga suatu
sore terdengar suara
hentakan keras "Buukk!!"
beberapa tetangga
melaporkan dengan
histeris bahwa Jessica
kecil terlindas kendaraan
seorang pemuda mabuk
yang melajukan
kendaraannya dengan
kencang didepan rumah
Budi. Tubuh Jessica mungil
terhentak beberapa
meter, dalam keadaan
yang begitu panik
ambulance didatangkan
secepatnya.
Selama perjalanan menuju
rumah sakit, Jessica kecil
sempat berkata dengan
begitu lirih "Jessi takut Pa,
Jessi takut Ma, Jessi
sayang papa mama" darah
segar terus keluar dari
mulutnya hingga ia tidak
tertolong lagi ketika
sesampainya di rumah
sakit terdekat.
Kejadian hari itu begitu
mengguncangkan hati
nurani Budi, Tidak ada
lagi waktu tersisa untuk
memenuhi sebuah janji.
Kini yang ada hanyalah
penyesalan. Permintaan
sang buah hati yang
sangat sederhana,.. pun
tidak terpenuhi. Masih
segar terbayang dalam
ingatan budi tangan
mungil anaknya yang
memohon kepadanya
untuk membacakan
sebuah cerita, kini
sentuhan itu terasa sangat
berarti sekali, ",...papa
baca keras-keras ya Pa,
supaya Jessica bisa
denger" kata-kata Jessi
terngiang-ngiang kembali......................
#bersambung.......
Pada suatu malam Budi,
seorang eksekutif sukses,
seperti biasanya sibuk
memperhatikan berkas-
berkas pekerjaan kantor
yang dibawanya pulang ke
rumah, karena keesokan
harinya ada rapat umum
yang sangat penting
dengan para pemegang
saham. Ketika ia sedang
asyik menyeleksi dokumen
kantor tersebut, Putrinya
Jessica datang
mendekatinya, berdiri
tepat disampingnya,
sambil memegang buku
cerita baru.
Buku itu bergambar
seorang peri kecil yang
imut, sangat menarik
perhatian Jessica, "Pa
liat"! Jessica berusaha
menarik perhatian
ayahnya. Budi menengok
ke arahnya, sambil
menurunkan
kacamatanya, kalimat
yang keluar hanyalah
kalimat basa-basi "Wah,.
buku baru ya Jes?",
"Ya papa" Jessica berseri-
seri karena merasa ada
tanggapan dari ayahnya.
"Bacain Jessi dong Pa"
pinta Jessica lembut,
"Wah papa sedang sibuk
sekali, jangan sekarang
deh" sanggah Budi
dengan cepat. Lalu ia
segera mengalihkan
perhatiannya pada kertas-
kertas yang berserakkan
didepannya, dengan
serius.
Jessica bengong sejenak,
namun ia belum
menyerah. Dengan suara
lembut
dan sedikit manja ia
kembali merayu "pa,
mama bilang papa mau
baca untuk
Jessi" Budi mulai agak
kesal, "Jes papa sibuk,
sekarang Jessi suruh
mama baca ya" "Pa,
mama cibuk terus, papa
liat gambarnya lucu-lucu",
"Lain kali Jessica, sana!
papa lagi banyak kerjaan"
Budi berusaha
memusatkan perhatiannya
pada lembar-lembar
kertas tadi, menit demi
menit berlalu, Jessica
menarik nafas panjang
dan tetap disitu, berdiri
ditempatnya penuh harap,
dan tiba-tiba ia mulai lagi.
"Pa,.. gambarnya bagus,
papa pasti suka", "Jessica,
PAPA BILANG, LAIN KALI!!"
kata Budi membentaknya
dengan keras, Kali ini Budi
berhasil, semangat Jessica
kecil terkulai, hampir
menangis, matanya
berkaca-kaca dan ia
bergeser menjauhi
ayahnya
"Iya pa,. lain kali ya pa?"
Ia masih sempat
mendekati ayahnya dan
sambil menyentuh lembut
tangan ayahnya ia
menaruh buku cerita di
pangkuan sang Ayah. "Pa
kalau papa ada waktu,
papa baca keras-keras ya
pa, supaya Jessica bisa
denger".
Hari demi hari telah
berlalu, tanpa terasa dua
pekan telah berlalu
namun
permintaan Jessica kecil
tidak pernah terpenuhi,
buku cerita Peri Imut,
belum pernah dibacakan
bagi dirinya. Hingga suatu
sore terdengar suara
hentakan keras "Buukk!!"
beberapa tetangga
melaporkan dengan
histeris bahwa Jessica
kecil terlindas kendaraan
seorang pemuda mabuk
yang melajukan
kendaraannya dengan
kencang didepan rumah
Budi. Tubuh Jessica mungil
terhentak beberapa
meter, dalam keadaan
yang begitu panik
ambulance didatangkan
secepatnya.
Selama perjalanan menuju
rumah sakit, Jessica kecil
sempat berkata dengan
begitu lirih "Jessi takut Pa,
Jessi takut Ma, Jessi
sayang papa mama" darah
segar terus keluar dari
mulutnya hingga ia tidak
tertolong lagi ketika
sesampainya di rumah
sakit terdekat.
Kejadian hari itu begitu
mengguncangkan hati
nurani Budi, Tidak ada
lagi waktu tersisa untuk
memenuhi sebuah janji.
Kini yang ada hanyalah
penyesalan. Permintaan
sang buah hati yang
sangat sederhana,.. pun
tidak terpenuhi. Masih
segar terbayang dalam
ingatan budi tangan
mungil anaknya yang
memohon kepadanya
untuk membacakan
sebuah cerita, kini
sentuhan itu terasa sangat
berarti sekali, ",...papa
baca keras-keras ya Pa,
supaya Jessica bisa
denger" kata-kata Jessi
terngiang-ngiang kembali......................
#bersambung.......
CATATAN SUBUH #4
Suatu hari anak khalifah Umar bin Khatab pulang sekolah dgn menangis.
Ketika ditanya oleh ayahnya, ia menjawab bahwa teman-temannya disekolah
mengolok-ngolok bajunya yang penuh dengan tambalan.
Diantara mereka mengatakan, ” hai Kawan-kawan, perhatikan berapa jumlah tambalan anak ini!” menjadi bahan tertawaan teman-temannya, sedih hatinya.
Pola hidup keluarga Khalifah Umar memang sederhana, saking sederhananya, konon kendati menjabat sebagai khalifah di Makkah, tambalannya ada empat belas. Salah satunya ditambal dengan kulit kayu.
Mengetahui kesedihan anaknya, pergilah umar kekas Negara dengan maksud akan meminjam beberapa dinar untuk membelikan baju anaknya. Tidak bertemu dengan pejabat bagian kas negara, ia meninggalkan sepucuk surat, isinya sebagai berikut :
Kepada bendahara Baitulmal yang terhormat saya mohon pinjaman sebesar empat dirham. Insya Allah pada awal bulan besok, setelah pembagian gaji dari Baitulmal, saya akan segera melunasinya.
Si bendahara tidak langsung kaget setelah menerima surat dari Khalifah. Dia juga tidak cepat-cepat mengambil uang dari baitulmal lalu mengirimnya kepada sang khalifah. Di mengamati surat itu sangat lama. Dia tahu betul bahwa pemimpinya itu bukan sejenis penguasa yang .memangfaatkan amanat rakyat untuk kepentingan pribadinya. Umar bin Khattab r.a di kenal sebagai pemimpin yang adil dan tegas. Bukan saja dia adil terhadap rakyat sekitarnya, melainkan juga bersikap adil terhadap anak-anaknya dan dirinya.apabila dirinya terbukti salah dalam menjalankan amanat Allah, dia segera akan menegurnya dan mendahulukan amanat tersebut. Apabila dia dihadapkan kepada dua kepentingan, kepentingansi anak dan kepentingan Islam, maka dia akan mendahulukan kepentingan agamanya. Sifat Umar seperti ini sudah umum di ketahui oleh rakyatnya, tidak terkecuali si bendahara Baitulmal ini.
Si bendahara menjawab surat Umar dalam bentuk sebuah pertanyaan.
Kepada Amir al-mukminin Umar bin Khattab
Telah saya baca surat anda tentang permohonan pinjaman dari uang Baitulmal. Aku sekadar ingin bertanya, apakah anda berani bahwa diri anda pasti tetap hidup sampai akhir bulan sehingga aku bisa menagih utang dari Baitulmal dari anda? Seandainya ajal menjemput anda sebelum bulan ini berakhir, apakah anda bisa mempertanggungjawabkanya di hadapan Allah? Wasalam.
Selesai membaca surat balasan dari pejabat kas negara, Khalifah laangsung menangis, dan berseru kepada anaknya :
”Hai anakku sungguh aku tidak mampu membelikan baju baru untukmu dan berangkatlah sekolah seperti biasanya, sebab aku tidak bisa meyakinkan akan pertambahan usiaku sekalipun hanya sesaat.” Anak itu pun menangis mendengar ujar ayahnya.
Anak Umar tetap tegar dan tabah, dan tetap masuk sekolah dengan memakai bajunya yang penuh tambalan. Ia tahu pasti bahwa, Allah SWT tidak melihat tampilan seseorang, tetapi melihat hatinya. Kemulian disis Allah bukan lah bagi orang – orang yang bagus pakaiannya , tetapi siapa diantara mereka yang paling bertakwa kepada Allah, lebih baik memakai baju tambalan asal halal daripada baju bagus serba mahal, namun dibeli dengan uang rakyat.
#statusuntukdirisendiri, gagh nyindirsapa2
Diantara mereka mengatakan, ” hai Kawan-kawan, perhatikan berapa jumlah tambalan anak ini!” menjadi bahan tertawaan teman-temannya, sedih hatinya.
Pola hidup keluarga Khalifah Umar memang sederhana, saking sederhananya, konon kendati menjabat sebagai khalifah di Makkah, tambalannya ada empat belas. Salah satunya ditambal dengan kulit kayu.
Mengetahui kesedihan anaknya, pergilah umar kekas Negara dengan maksud akan meminjam beberapa dinar untuk membelikan baju anaknya. Tidak bertemu dengan pejabat bagian kas negara, ia meninggalkan sepucuk surat, isinya sebagai berikut :
Kepada bendahara Baitulmal yang terhormat saya mohon pinjaman sebesar empat dirham. Insya Allah pada awal bulan besok, setelah pembagian gaji dari Baitulmal, saya akan segera melunasinya.
Si bendahara tidak langsung kaget setelah menerima surat dari Khalifah. Dia juga tidak cepat-cepat mengambil uang dari baitulmal lalu mengirimnya kepada sang khalifah. Di mengamati surat itu sangat lama. Dia tahu betul bahwa pemimpinya itu bukan sejenis penguasa yang .memangfaatkan amanat rakyat untuk kepentingan pribadinya. Umar bin Khattab r.a di kenal sebagai pemimpin yang adil dan tegas. Bukan saja dia adil terhadap rakyat sekitarnya, melainkan juga bersikap adil terhadap anak-anaknya dan dirinya.apabila dirinya terbukti salah dalam menjalankan amanat Allah, dia segera akan menegurnya dan mendahulukan amanat tersebut. Apabila dia dihadapkan kepada dua kepentingan, kepentingansi anak dan kepentingan Islam, maka dia akan mendahulukan kepentingan agamanya. Sifat Umar seperti ini sudah umum di ketahui oleh rakyatnya, tidak terkecuali si bendahara Baitulmal ini.
Si bendahara menjawab surat Umar dalam bentuk sebuah pertanyaan.
Kepada Amir al-mukminin Umar bin Khattab
Telah saya baca surat anda tentang permohonan pinjaman dari uang Baitulmal. Aku sekadar ingin bertanya, apakah anda berani bahwa diri anda pasti tetap hidup sampai akhir bulan sehingga aku bisa menagih utang dari Baitulmal dari anda? Seandainya ajal menjemput anda sebelum bulan ini berakhir, apakah anda bisa mempertanggungjawabkanya di hadapan Allah? Wasalam.
Selesai membaca surat balasan dari pejabat kas negara, Khalifah laangsung menangis, dan berseru kepada anaknya :
”Hai anakku sungguh aku tidak mampu membelikan baju baru untukmu dan berangkatlah sekolah seperti biasanya, sebab aku tidak bisa meyakinkan akan pertambahan usiaku sekalipun hanya sesaat.” Anak itu pun menangis mendengar ujar ayahnya.
Anak Umar tetap tegar dan tabah, dan tetap masuk sekolah dengan memakai bajunya yang penuh tambalan. Ia tahu pasti bahwa, Allah SWT tidak melihat tampilan seseorang, tetapi melihat hatinya. Kemulian disis Allah bukan lah bagi orang – orang yang bagus pakaiannya , tetapi siapa diantara mereka yang paling bertakwa kepada Allah, lebih baik memakai baju tambalan asal halal daripada baju bagus serba mahal, namun dibeli dengan uang rakyat.
#statusuntukdirisendiri, gagh nyindirsapa2
CATATAN SUBUH #3
Suatu ketika saya bertemu dengan seorang nenek. Dia, yang yang ringkih
dengan kebaya bermotif kembang itu, tampak sedang memegang sebuah
kantong plastik. Hitam warnanya, dan tampak lusuh. Saya duduk
disebelahnya, di atas sebuah metromini yang menuju ke stasiun KA.
Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai, berkelok-kelok.
Hmm…dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana. Saya pun menjawab mau kuliah, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.
Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu.
Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya. Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.
Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali.
Saya teringat pada Ibu. Tuhan memang Maha Bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya. Sudah beberapa saat sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kuliah. Sering saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.
Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.
Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun. Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya akan menyantap semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai penghargaan buatnya. Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu. Terima kasih Nek.
Dia sangat tua, tubuhnya membungkuk, dan kersik di matanya tampak jelas. Matanya selalu berair, keriputnya, mirip dengan aliran sungai, berkelok-kelok.
Hmm…dia tampak tersenyum pada saya. Sayapun balas tersenyum. Dia bertanya, mau kemana. Saya pun menjawab mau kuliah, sambil bertanya, apa isi plastik yang dipegangnya.
Minyak goreng, jawabnya. Ah, rupanya, dia baru saja mendapat jatah pembagian sembako. Pantas, dia tampak letih. Mungkin sudah seharian dia mengantri untuk mendapatkan minyak itu.
Tanpa ditanya, dia kemudian bercerita, bahwa minyak itu, akan dipakai untuk mengoreng tepung buat cucunya. Di saat sore, itulah yang bisa dia berikan buat cucunya. Dia berkata, cucunya sangat senang kalau digorengkan tepung. Sebab, dia tak punya banyak uang untuk membelikan yang lain selain gorengan tepung buatannya. Itupun, tak bisa setiap hari disajikan. Karena, tak setiap hari dia bisa mendapatkan minyak dan tepung gratis.
Degh. Saya terharu. Saya membayangkan betapa rasa itu begitu indah. Seorang nenek yang rela berpanas-panas untuk memberikan apa yang terbaik buat cucunya. Sang nenek, memberikan saya hikmah yang dalam sekali.
Saya teringat pada Ibu. Tuhan memang Maha Bijak. Sang nenek hadir untuk menegur saya. Sudah beberapa saat sebelumnya, saya sering melupakan Ibu. Seringkali makanan yang disajikannya, saya lupakan begitu saja. Mungkin, karena saya yang terlalu sok sibuk dengan semua urusan kuliah. Sering saat pulang ke rumah, saya menemukan nasi goreng yang masih tersaji di meja, yang belum saya sentuh sejak pagi.
Sering juga saya tak sempat merasakan masakan Ibu di rumah saat kembali, karena telah makan di tempat lain. Saya sedih, saat membayangkan itu semua. Dan Ibu pun sering mengeluh dengan hal ini. Saya merasa bersalah sekali. Saya bisa rasakan, Ibu pasti memberikan harapan yang banyak untuk semua yang telah dimasaknya buat saya. Tentu, saat memasukkan bumbu-bumbu, dia juga memasukkan kasih dan cintanya buat saya. Dia pasti, mengolah semua masakan itu, mengaduk, mencampur, dan menguleni, sama seperti dia merawat dan mengasihi saya. Menyentuh dengan lembut, mengelus, seperti dia mengelus kepala saya di waktu kecil.
Metromini telah sampai. Setelah mengucap salam pada nenek itu, saya pun turun. Namun, saya punya punya keinginan hari itu. Mulai esok hari, saya akan menyantap semua yang Ibu berikan buat saya. Apapun yang diberikannya. Karena saya yakin, itulah bentuk ungkapan rasa cinta saya padanya. Saya percaya, itulah yang dapat saya berikan sebagai penghargaan buatnya. Saya berharap, tak akan ada lagi makanan yang tersisa. Saya ingin membahagiakan Ibu. Terima kasih Nek.
CATATAN SUBUH #2
Saat senang aku cari pasanganku
Saat sedih aku cari ibu
Saat sukses aku ceritakan pada pasanganku
Saat gagal aku ceritakan pada ibu
Saat bahagia aku peluk erat pasanganku
Saat sedih aku peluk erat ibuku
Saat liburan aku bawa pasanganku
Saat aku sibuk anak dianter ke rumah ibu
#maafkanakuibu...!!!!
Saat sedih aku cari ibu
Saat sukses aku ceritakan pada pasanganku
Saat gagal aku ceritakan pada ibu
Saat bahagia aku peluk erat pasanganku
Saat sedih aku peluk erat ibuku
Saat liburan aku bawa pasanganku
Saat aku sibuk anak dianter ke rumah ibu
#maafkanakuibu...!!!!
CATATAN SUBUH #1
Sorang eksekutif muda sedang beristirahat siang di sebuah kafe terbuka.
Sambil sibuk mengetik di laptopnya, saat itu seorang gadis kecil yang
membawa beberapa tangkai bunga menghampirinya. ”Om beli bunga Om.”
”Tidak Dik, saya tidak butuh,” ujar eksekutif muda itu tetap sibuk
dengan laptopnya. ”Satu saja Om, kan bunganya bisa untuk kekasih atau
istri Om,” rayu si gadis kecil. Setengah
kesal dengan nada tinggi karena merasa terganggu keasikannya si pemuda
berkata, ”Adik kecil tidak melihat Om sedang sibuk? Kapan-kapan ya kalo
Om butuh Om akan beli bunga dari kmu” Mendengar ucapan si pemuda, gadis
kecil itu pun kmudian beralih ke orang-orang yg lalu lalang di sekitar
kafe itu Stelah mnyelesaikan istirahat siangnx si pemuda sgera branjak
dari kafe itu. Saat brjalan kluar ia berjumpa lagi dngn si gadis kecil
penjual bunga yg kembali mendekatinyX ”Sudah selesai kerja Om, sekarang
beli bunga ini dong Om, murah kok satu tangkai saja.” Bercampur antara
jengkel kasihan si pemuda mngeluarkan& sejumlah uang dari sakunx
”Ini uang 2000 rupiah buat kmu. Om tdk mau bunganx anggap saja ini
sdekah untuk kmu” ujar si pemuda sambil mngngsurkn uangnx kpda si gadis
kcil Uang itu diambilnx ttapi bukan untk disimpan mlainkn ia brikn kpda
pngemis tua yg kbetulan lwat di skitar sana Pemuda itu kheranan dan
sedikit trsinggung”Kenapa uang tadi tdk kmu ambil, malah kmu berikn
kpada pengemis?” Dngn kluguanx si gadis kecil mnjawab”Maaf Om, saya
sudah brjanji dngn ibu bahwa saya harus mnjual bunga2 ini & bkan
mndapatkan uang dari meminta2 Ibu saya selalu berpesan walaupun tidak
punya uang kita tidak bolah menjadi pengemis.” Pemuda itu tertegun,
betapa ia mendapatkn plajran yg sngat berharga dari seorang anak kcil
bahwa kerja adlah sbuah khormatan, meski hasil tdk sbrapa ttapi kringat
yg mnetes dari hasil kerja kras adlah sebuah kbanggaan Si pemuda itu pun
akhirnx mngeluarkan dompetnya dan membeli semua bungax bukan karena
kasihan, tapi karena semangat kerja dan keyakinn si anak kecil yang
memberinya pelajaran berharga hari itu Tidak jarang kita menghargai
pekerjaan sebatas pada uang atau upah yang diterima. Kerja akan bernilai
lebih jika itu menjadi kebanggaan bagi kita. Sekecil apapun peran dalam
sebuah pekerjaan, jika kita kerjakan dengan sungguh-sungguh akan
memberi nilai kepada manusia itu sendiri. Dengan begitu, setiap tetes
keringat yang mengucur akan menjadi sebuah kehormatan yang pantas kita
perjuangan
Langganan:
Postingan (Atom)